Dulu ketika masih tinggal di Indonesia, saya kadang-kadang tidak bisa begitu saja percaya pendapat bahwa seenak-enaknya tinggal di negeri orang, lebih enak tinggal di negeri sendiri. Tesis seperti itu sebenarnya juga direkam dengan baik dalam peribahasa kita: lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang. Apakah betul demikian? Tentu saja saya tidak bisa menjawabnya sampai mendapatkan kesempatan untuk tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun.
Setelah hampir tujuh tahun saya tinggal di luar negeri, apakah betul peribahasa yang saya kutip tadi memang menyampaikan sesuatu yang benar? Ternyata, sampai saat ini pun, saya tetap kesulitan menjawabnya.
Sebagai orang yang dibesarkan di sebuah kota di Jawa Tengah yang guyub dan akrab, ketika sedang berada di luar negeri, saya merasakan betul kerinduan terhadap suasana di Indonesia. Hal itu lebih-lebih lagi terasa terutama di negara yang masyarakatnya amat individualistis. Keguyuban masyarakat dan sanak saudara, keindahan alam dan budaya, serta kelezatan masakan Indonesia seolah-olah menjadi faktor-faktor tak tergantikan ketika kita hidup di negeri lain. Biasanya hal tersebutlah yang memang membuat kita selalu merindukan suasana dan ingin kembali ke tanah air.
Namun, di luar faktor itu, apakah ada hal yang menguatkan tesis bahwa hidup di negeri sendiri lebih menyenangkan? Jelas ini juga pertanyaan yang agak sulit dijawab. Jika menilik peribahasa tadi, negeri orang selalu diidentikkan dengan hujan emas. Tampaknya, persepsi sebagian masyarakat kita memang menganggapnya demikian. Negeri lain—tidak selalu harus diartikan negara lain—tampaknya menjadi tanah harapan. Akibatnya, dalam beberapa kebudayaan kita terdapat tradisi merantau. Merantau atau pergi mencari kehidupan di tempat lain merupakan hal yang lumrah bagi anggota masyarakat kita. Jadi, jika pada beberapa tahun belakangan ini terjadi eksodus besar-besaran tenaga kerja dari negeri kita ke luar negeri, hal itu bukanlah fenomena yang baru dan mengejutkan.
Mengapa itu bukan fenomena baru? Sebenarnya, sekian puluh tahun lalu perpindahan atas dasar alasan ekonomi itu sudah terjadi di negeri kita. Lihat saja; dulu telah terjadi eksodus masyarakat usia produktif dari desa ke kota dan dari luar Jawa ke Jawa selama sekian puluh tahun. Nampaknya, kecenderungan itu berganti seiring dengan turunnya pamor pulau Jawa dan kota-kotanya sebagai sumber-sumber penghidupan sejak tahun 1980-an. Arah eksodus pun kini mulai beralih melewati batas-batas negara meskipun alasan dan tujuan proses tersebut tetap saja sama.
Sekarang yang juga menggelitik saya adalah: mengapa hujan batu selalu dilimpahkan kepada negeri sendiri? Barangkali ini terkait dengan sindrom inferioritas pada masyarakat kita yang umumnya tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri. Sebagian pakar kajian pascakolonialisme, seperti Isabella Matsikidze, menduga ini sebagai akibat dari kolonialisasi yang telah mengubah alterasi atau orientasi bangsa kita. Akibatnya sangat kuat dirasakan hingga sekarang. Misalnya, ketidakpercayaan terhadap barang produksi dalam negeri, ketidakpercayaan diri ketika berhadapan dengan orang asing, anggapan bahwa apa yang berasal dari luar negeri adalah lebih baik, dan sebagainya.
Melihat situasi tersebut, agaknya sebagian masyarakat menganggap bahwa hidup di negara lain barangkali lebih baik daripada di negeri sendiri. Dengan standar kehidupan tinggi serta layanan publik prima, tinggal dan bekerja di negeri lain, terutama yang sudah masuk kategori negara maju, memang menjanjikan. Jadi, pertanyaannya adalah apakah taraf kehidupan tinggi dan layanan publik prima tidak mungkin diwujudkan di negeri kita? Ini juga pertanyaan yang, jujur, sulit dijawab karena tidak semudah membalikkan tangan.
Saya termasuk golongan orang yang percaya bahwa apa saja yang ada di muka bumi ini bisa berubah. Jadi, selama kita yakin bahwa tidak selamanya hujan emas hanya turun di negeri orang, kita akan terus berupaya untuk menciptakan hujan yang sama di negeri sendiri: Indonesia. Namun, jika kita terus hanya memposisikan Indonesia sebagai wilayah tempat hujan batu “selayaknya” turun, maka selama itu pula Indonesia hanya pantas bagi hujan batu. Jelas ini akan membuat situasi di Indonesia tidak akan pernah berubah ke arah perbaikan, namun justru ke arah keterpurukan. Saya jadi teringat sebuah ayat suci yang menyatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum apabila kaum itu sendiri tidak berupaya untuk mengubahnya.
Pada era sekarang ini, kita juga dapat menamsilkan Indonesia sebagai sebuah “desa besar” yang ditinggalkan sebagian masyarakatnya dalam proses “urbanisasi” atau “hijrah” ke negeri-negeri lain. Indonesia ditinggalkan karena sudah kehilangan daya tariknya, sementara kota-kota di negeri orang menjadi “urban” yang menjadi pusat daya tarik. Banyak orang di “desa besar” Indonesia yakin bahwa luar negeri adalah tempat menggapai harapan. Di sanalah segala harapan akan hidup yang layak dan nyaman terletak. Namun, banyak orang lupa bahwa tidak semua kehidupan di negeri lain itu nyaman dan menyenangkan, melainkan juga ada aspek-aspek kehidupan lain yang menyulitkan, misalnya pajak yang tinggi, stigmatisasi terhadap orang asing—terutama dari Asia, biaya hidup yang mencekik leher, dan sebagainya. Karenanya, ada juga banyak orang yang gagal dan kecewa karena kenyataan yang dihadapinya di luar negeri sama sekali berbeda dengan apa yang diharapkan. Tampaknya, banyak orang yang lupa untuk melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh.
Kembali lagi pada permasalahan semula: bagaimana agar hujan emas tidak hanya dimonopoli oleh negeri orang, melainkan juga dapat turun di negeri sendiri? Saya kira, semuanya terletak pada diri kita sendiri. Wajah Indonesia kini sebenarnya refleksi dari apa yang telah kita capai dan lakukan hingga hari ini. Jadi sebaik apa pun Indonesia sekarang, sebaik itu pula usaha yang telah kita lakukan. Seburuk apa pun wajah Indonesia saat ini, memang seburuk itulah perlakuan yang telah kita tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mulai sekarang, daripada terus-terusan bersikap pasrah terhadap hujan batu, mengapa kita tidak bersama-sama berupaya membuat hujan emas di negeri sendiri, Indonesia tercinta?


Komentar Terakhir