Hari itu, Selasa, 30 Juli 1985. Saya baru saja akan berangkat mengikuti kegiatan perkenalan sekolah. Maklum, kala itu saya baru saja menginjak bangku SMA kelas 1. Hari itu pula untuk pertama kalinya saya mendengar nama beliau. Beberapa hari sebelumnya, saya mendengar kabar kematian, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto. Orang yang saya ingat betul “mengenalkan” pelajaran sejarah baru yang bernama PSPB. Saya kala itu tidak habis berpikir, mengapa mesti ada dua pelajaran sejarah?
Setelah Pak Nugroho berpulang, beliaulah yang menggantikannya memimpin gerbong Depdikbud. Sejak itu, bagaikan meteor, beliau melesat menjadi bintang di kabinet. Makin hari makin menarik hati saya sebagai pelajar. Entah mengapa, saya kepengin betul bertemu dengan beliau. Satu hal yang tidak pernah saya pikirkan ketika Depdikbud dipimpin oleh orang lain, baik sebelumnya, maupun sesudahnya.
Keinginan itu terwujud ketika saya kuliah. kebetulan sekali, dosen saya di FSUI adalah istri beliau. Namun, bukan lantaran itu saya bisa bertemu beliau. Saya bisa bertemu beliau pertama kali ketika saya bermain teater dalam menyambut bulan bahasa tahun 1989. Beliau terpukau oleh penampilan kami ketika itu dan akhirnya mengundang kami semua ke rumah beliau di kompleks Widya Chandra.
Sejak itu, saya sering bertemu beliau. Namun, pertemuan paling berkesan justru terjadi di awal 2000-an di ruangan beliau di Fakultas Psikologi UI, Depok ketika beliau sudah lama tidak menjabat sebagai menteri. Saya bertemu beliau dengan rekan saya, Kresno Yulianto. Kami berdiskusi mengenai banyak hal, terutama masalah pendidikan Indonesia. Tidak ada sedikit pun satu hal yang luput dari perhatian beliau kalau sudah menyangkut pendidikan. Jadi, bagi saya beliau adalah menteri pendidikan dalam arti yang sesungguhnya. Maafkan, Pak Wardiman, Pak Wismoyo, Pak Juwono, Pak Yahya Muhaimin, Pak Malik Fadjar, dan Pak Bambang Sudibyo, bukan saya tidak menghormati Anda semua, tetapi setelah Fuad Hassan menjabat menteri pendidikan, saya baru merasa bahwa menteri pendidikan di Republik Indonesia diganti setelah beliau dipanggil oleh Khaliknya kemarin sore. Jadi, selama ini, sejak 30 Juli 1985 sampai 7 Desember 2007, bagi saya, Pak Fuad adalah Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Selamat jalan, Pak Fuad Hassan. Terima kasih tiada tara karena telah mengisi kehidupan saya dengan petuah yang berharga. Mudah-mudahan Allah Swt membukakan pintu maaf dan meninggikan martabat Bapak di haribaan-Nya.



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini