Yang membaca judul posting saya kali ini pasti bingung. Bagaimana bisa menjawab soal, tetapi tidak memahaminya? Mengapa harus bingung? Dalam kehidupan sehari-hari saya kira cukup banyak kejadian seperti itu. Banyak orang “terpaksa” menjawab persoalan, meskipun sebenarnya tidak tahu betul apa persoalannya. Semuanya harus dijawab karena memang dituntut untuk segera menjawabnya, dan bukan lantaran kita sudah memahaminya.

Jadi, menjawab tidak identik dengan memahami. Itulah yang ingin saya tekankan dalam posting kali ini. Menjawab bisa saja dilakukan tanpa pemahaman. Coba saja lihat anak-anak kita yang duduk di bangku sekolah. Mereka berusaha menjawab soal-soal ulangan, ujian atau tes yang disodorkan kepada mereka. Bagaikan mesin, kebanyakan mereka hanya diajari untuk menjawabnya.

Karena yang dipentingkan adalah menjawab, wajar ketika ujian beberapa anak menyiapkan jurus-jurus contekan. Beberapa anak yang tidak berani mencontek lebih memilih menghitung kancing atau menjatuhkan pensil di atas pilihan jawaban. Mereka yang lebih mementingkan proses memahami, tentu saja merasa wajar kalau tidak bisa menjawab–karena memang tidak bisa memahami soalnya.

Namun, sayangnya, kebanyakan orang-orang kita cukup puas dengan kondisi itu dan menganggapnya sebuah keniscayaan. Makanya, banyak bimbingan tes menjamur di segala penjuru tanah air: sebuah badan bisnis yang mendapatkan profit dari jasa mengajarkan bagaimana menjawab soal dengan cepat dan mudah. Jadi, menjawab, sekali menjawab

Jika kita tarik ke dalam kehidupan yang lebih luas, kita juga bisa melihat betapa banyak figur masyarakat yang berusaha tetap menjawab persoalan, meskipun sejatinya tidak memahami persoalan sebenarnya. Sementara itu, kita juga kadang-kadang menemukan adanya figur yang sebenarnya betul-betul memahami persoalannya, namun memilih untuk tidak menjawab karena satu dan dua alasan. Jadi, dalam hal ini, menjawab soal memang tidak selalu identik dengan memahami-nya.

Kembali ke dunia pendidikan. Kita menyadari betul bahwa pendidikan kita menjejali anak-anak kita dengan begitu banyak materi pada usia mereka masih dini. Para pengajar pun seperti diburu “setoran” kurikulum, TIK, TIU, dan tetek-bengek lainnya berlomba-lomba menghabiskan materi untuk anak bimbingannya, tanpa peduli apakah mereka memahaminya atau tidak. Jadi, marilah kita renungkan cara yang terbaik dalam mendidik anak-anak kita sehingga bangsa kita kelak tidak tertinggal oleh negara lain.