Waras dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur adalah ’sembuh’, sementara orang Jawa tengah lebih suka menggunakan kata mari untuk arti yang sama. Dalam pengertian orang Jawa Tengah, makna kata waras mempunyai dampak yang lebih luas daripada sekadar ’sembuh, pulih atau kembali dalam kondisi fit’. Pada kata waras, kondisi prima atau fit tersebut tidak hanya berlaku pada fisik seseorang, melainkan juga pada mentalnya. Oleh karena itu, mereka yang mengalami gangguan mental sering juga disebut dengan ora waras atau kurang waras.
Dalam posting kali ini, mengapa saya mengangkat kata waras? Ya, tokoh yang beberapa minggu ini menghiasi nyaris semua media massa di tanah air kini sedang beranjak sembuh. Pak Harto sudah membaik, bahkan bisa tersenyum ketika disuapi bubur. Begitu isi berita di dalam Detik.com kemarin. Ada banyak hal yang menarik yang tersisa dari gegap-gempita peristiwa sakitnya sang tokoh Orde Baru.
Pertama, pelataran RSPP yang sempat hiruk-pikuk oleh wartawan pun mulai sepi. Mungkin masih ada juga orang-orang yang menjenguk, menjemput, atau apa saja yang berkaitan dengan Soeharto. Terus terang, saya tidak habis berpikir juga dengan mereka yang meliput peristiwa sakitnya Soeharto. Tentu saja semua setuju bahwa rumah sakit adalah kawasan penyembuhan bagi mereka yang sedang sakit. Bahkan, di beberapa negara, di jalan-jalan menjelang rumah sakit biasanya selalu diberi tanda lalu lintas yang mengharuskan kendaraan mengurangi kecepatan dan tidak memakai tuter atau klakson. Itu tandanya bahwa tidak boleh ribut di kawasan rumah sakit. Nah, tetapi apa yang terjadi ketika peristiwa kaca pecah di RSPP dalam peliputan minggu lalu? Demi hak publik atas informasi, hak publik lain yang sedang merajut kesembuhan pun dikorbankan.
Kedua, selama nyaris lebih satu dekade ini, ketika akal sehat mulai sulit digunakan, banyak orang menggunakan saluran alternatif sebagai sumber yang dapat dipercaya: peramal dan paranormal. Lembaga-lembaga resmi semisalnya BMG atau Pusat Vulkanologi kehilangan kredibilitasnya sehingga luntur kepercayaan publik kepadanya. Akhirnya, paranormal dan peramal pun laris bak selebriti. Ramalan mereka dikultuskan seolah-oleh sebuah keniscayaan. Namun, dalam peristiwa sakitnya Soeharto ini, semuanya tadi luluh lantak: tidak ada seorang pun peramal yang tepat, menebak kematian Soeharto.
Ketiga, mungkin hal ini sudah pernah disampaikan orang lain: di tengah rendahnya kepercayaan terhadap produk dalam negeri, Soeharto justru melawan arus. Seperti kebiasaan beliau ketika masih berkuasa dulu, beliau justru ingin memperoleh perawatan di Indonesia. Langkah besar Soeharto yang ternyata lebih cinta terhadap negeri ini barangkali berbeda jauh dari sebagian orang Indonesia, termasuk saya barangkali. Bahkan, mungkin segelintir orang yang dulu mencaci-makinya di tahun 1998, kini pun lebih suka melakukan medical check-up rutin di R.S. Mount Elizabeth, Singapura atau melakukan bedah jantung di R.S. Mount Sinai Toronto, Kanada tinimbang pergi ke RSCM atau RS Harapan Kita.
Jadi, di balik fenomena Soeharto ini, ada yang bisa kita jadikan teladan dalam menjalin kehidupan di negeri ini. Ternyata di antara ketidakwarasan (baca: ketidakrasionalan) yang merajalela di negeri ini, ternyata masih ada secercah kewarasan (baca: kerasionalan). Dan, justru, antara lain, hal itu ditunjukkan oleh Soeharto yang sedang kurang waras (baca: sakit) dan selama sepuluh tahun ini menjadi sasaran hujatan oleh banyak orang Indonesia, termasuk saya barangkali.



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini