Berkat dedikasi seorang member Youtube bernama Ando & Lorra, kami yang berada jauh di tanah air ini bisa menyesuaikinikan (baca: update) tontonan kami, khususnya yang berkaitan dengan film Indonesia. Setelah mati suri sekian lama sejak 1992, memang perfilman Indonesia kini mulai bangkit lagi. Ada beberapa film yang patut dicermati. Ada beberapa sutradara yang pantas diakui eksistensinya. Ada pula beberapa artis yang perlu diacungi jempol aktingnya. Dari sekian banyak itu, kali ini saya ingin membicarakan seorang sutradara yang kebetulan menggarap satu judul film yang baru saja saya tonton: Get Married.
Get Married adalah film kesekian dari Hanung Bramantyo yang berkatnya Hanung memenangi penyutradaraan terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun lalu. Mengalahkan sutradara dan juga bintang kawakan, Dedi Miswar; juga sutradara muda terkenal Rudy Sudjarwo. Saya memang melihat kekuatan Hanung dalam menggarap film-film bermuatan cinta. Salah satunya yang saya suka adalah Brownies. Sentuhan Hanung membuat film mengalir tanpa ada sebuah kejanggalan yang berarti meskipun tak tertutup kemungkinan masih ada kekurangan di sana sini: terutama di bagian penutup atau akhir film. Kali ini Hanung ingin memperlihatkan kepiawaiannya kembali dalam menyutradarai sebuah film yang agaknya bukan film cinta belaka, melainkan juga sebuah film tentang persahabatan dalam bingkai komedi. Serupa tapi tak sama dengan film lain garapannya yang berjudul Jomblo.
Apa yang membuat Get Married memberikan kesempatan bagi Hanung untuk mendapat sebuah piala Citra lagi? Menurut saya ada empat hal yang patut dicermati. Pertama, Hanung berhasil menyuguhkan kepada kita realitas sosial dari sebuah masyarakat marginal di perkotaan. Masyarakat “kampung” yang tetap bertahan di antara komunitas lain yang bergerak pesat di kota kosmpolitan, seperti Jakarta. Kedua, Hanung berhasil mengeksploitasi kemampuan akting beberapa pemain pendukung film ini seperti Nirina, Aming, Agus Ringgo, Jaja, Merriam dan lain-lain. Meskipun beberapa di antara mereka tampak biasa-biasa saja, termasuk Nirina dan Agus, saya justru tertarik dengan akting Aming yang cukup bagus di sini. Masih ada lagi. Akting Jaja Miharja yang natural juga bisa diimbangi oleh Merriam Bellina yang memang merupakan aktor kampiun pada zamannya. Ketiga, Hanung berhasil mengemas kritik sosial dalam film Get Married ini sedemikian rupa sehingga tidak terkesan terlalu dipaksakan. Keempat, tentu saja, dari segi sinematografi dan fotografi, film ini juga sangat baik. Dibandingkan dengan Rudy Sudjarwo yang sering bereksperimen dengan kamera (misalnya dalam Pocong 2 atau Mengejar Mas-Mas), Hanung lebih sering bermain aman dengan menonjolkan aspek artistiknya. Hasilnya, gambar film Hanung dalam Get Married memang cukup mengagumkan.
Jika ada orang lain yang merasa tersinggung dengan kritik Hanung terhadap manusia Indonesia, terutama menjelang penyerangan Randy (Richard Kevin) dan teman-teman ke kampung Maemun (Nirina), saya justru tertarik melihatnya. Ya, barangkali itu cara Hanung mengingatkan kita, manusia Indonesia, bahwa kita tidak lebih daripada manusia barbar zaman batu apabila masih banyak menggunakan bahasa kekerasan. Mau dibilang apa, ya memang penampilan kita secara umum masih seperti itu. Lihat saja di dalam berita di surat kabar bahwa kampung A dan B tawuran, SMA X dan SMK Z bentrokan, atau Batalyon 123 menyerang Polres XYZ, atau sebaliknya. Jadi, saya kira saya masih bisa memahami kritik Hanung terhadap manusia Indonesia dalam batas tertentu.
Ada satu hal yang menurut saya justru menjadi kelemahan, tetapi sekaligus kelebihan film ini. Apa itu? Itu adalah babak akhir dari film Get Married. Kelemahannya terletak pada penggarapan alur cerita dan pengarakteran tokoh yang kurang sehingga kita melihat begitu mudah jatuhnya babak akhir film ke dalam “happy ending”. Begitu mudahnya Maemun menerima “pinangan” Randy yang sudah mengizinkan bala pasukannya mengobrak-abrik kampungnya. Begitu mudahnya Benny (Agus Ringgo) melepaskan Mae kepada Randy.
Namun, di bagian akhir itu pula juga terdapat kekuatan film ini. Kekuatan itu adalah kemampuan Hanung dalam mentransformasikan prosesi pernikahan adat Betawi. Sebagian dari kita tentu tahu bahwa di dalam prosesi perkawinan Betawi, rombongan pengantin laki-laki membawa seorang jagoan untuk diadu bermain silat dengan jagoan dari keluarga pengantin wanita. Semuanya yang semula bermakna simbolis direalisasikan oleh Hanung ke dalam bentuk nyata, yakni perkelahian dan tawuran. Tentu saja, jelas, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Barangkali, kembali lagi, ini adalah kritik Hanung terhadap sistem sosial budaya kita yang cenderung mencerminkan budaya kekerasan. Benarkah itu? Tanyakan saja kepada Hanung.



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini