Saya melihat dalam berbagai blog dan situs berita begitu gegap gempitanya berita seputar film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Ada yang menyanjungnya, tidak kalah banyak pula yang skeptis dan mengritiknya. Saya, dalam hal ini, tidak dalam posisi menilai atau mengulas film tersebut karena saya belum menonton versi aslinya. Saya, terpaksa, karena saya berada di luar negeri, melihat versi bajakannya yang dimuat-naikkan oleh seorang youtuber di dalam situs video share terkemuka tersebut. Jadi, tidak sepantasnya saya mengritik sebuah karya tanpa melihat karya tersebut dalam bentuk final seperti yang diharapkan oleh pembuatnya. Aneh bukan kalau saya mengritik scoring dalam musik AAC sementara versi yang saya tonton itu aspal dan bukan hasil final sang pembuatnya? (Beberapa background music pada AAC versi bajakan masih menggunakan scoring pada film seperti Schlinder’s List, Taegukgi dan lain-lain.)
Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman saya, saya justru melihat demam AAC ini dalam kerangka lain. Kami berdebat tentang membludaknya penonton AAC dalam beberapa perspektif. Perspektif pertama adalah sebab-sebab meledaknya AAC. Pertama, saya melihat bahwa film AAC meledak karena adanya kebekuan film-film Indonesia yang didominasi film-film bertema horror dan cinta remaja. Mengapa hanya dua tema itu yang menonjol, ya karena film dengan kedua tema itulah yang tidak berisiko tinggi untuk mengalami jeblok di pasaran. Kedua, film AAC menjadi fenomenal karena film itu diadaptasi dari sebuah novel yang menurut saya juga fenomenal. Novel ini adalah novel islami pertama–jika memang boleh mengkategorikan sebuah genre sastra dengan nama sastra islami–yang dibaca tidak hanya oleh para ikhwan dan akhwat, namun juga oleh mereka yang merasa tidak masuk ke dalam kelompok tersebut–meminjam istilah Clifford Geertz: abangan. Jika novelnya membuat banyak abangan yang mencoba mencuri-curi membacanya, filmnya justru sebaliknya. Filmnya sanggup membuat orang-orang penganut waham fanatik yang dahulu menjauhi bioskop karena dianggap simbol keduniawian dan Barat, kini mau datang berbondong-bondong dengan sanak saudaranya.
Perspektif kedua adalah akibat-akibat yang bisa ditimbulkannya. Entah langsung atau tidak langsung, demam AAC memang akan berpengaruh sedikit banyak kepada masyarakat penontonnya, terutama kawula muda. Perilaku mereka barangkali akan terpengaruh oleh nilai-nilai dalam film itu. Namun, sekali lagi, kadarnya dan panjang waktunya sangat ditentukan oleh pribadi masing-masing serta faktor lingkungan yang melingkupinya. Selain itu, yang jelas, boom AAC akan memancing produser film lain untuk latah membuat film yang sejenis. Hal itu, saya yakin, sudah menjadi ciri khas budaya Indonesia masa kini. Semuanya bertumpu pada trend dan ikut-ikutan. Jika salah satu bisa mendapatkan untung menggunakan resep A, semua orang lalu berbondong-bondong menggunakan resep yang sama agar kecipratan rejeki. Jadi, saya berani bertaruh bahwa akan muncul film-film sejenis setelah suksesnya Ayat-Ayat Cinta. Kita tunggu saja tanggal mainnya.



6 comments
Comments feed for this article
Maret 22, 2008 pada 4:42 pm
Alfi Haris Wanto
Ini komentar dari seseorang yang memang kurang hobi baca novel maupun lihat film-film romantik,
Tapi walaupun demikian jika saya diijinkan berkomentar, yang saya rasakan sebagai orang yang awam sekali tentang dunia tersebut, saya merasakan betapa film AAC mampu membawa gelombang dari belahan bumi bagian katulistiwa khususnya Asia Tenggara sampai berjalan melewati samudra pasific sehingga saya yg lagi di sebuah tempat jauh dan terpencil (fujisawa) masih bisa merasakan betapa dahsyatnya film Ayat-ayat cinta.
Dari yang saya dengar dan baca di media bahwa film ini merupakan film yang menorehkan sejarah tersendiri dari perkembangan dunia film di tanah air dimana baru 2 minggu di tayangkan di bioskop namun sudah menyedot 2 juta pemirsa merupakan fenomena yang sungguh luar biasa.
bahkan penontonnya pun berasal dari berbagai kalangan dan berbagai lapisan masyarakat.
Film ini memberikan harapan banyak pihak khususnya terkait dengan kualitas perfilman Indonesia yang masih mengalami degradasi kualitas. Dengan adanya film AAC ini semoga ke depan bangsa Indonesia memiliki identitas tersendiri dari sisi karakter film yang ditampilkan serta membawa dampak positif dari pesan-pesan nilai moral yang ada dalam film itu sendiri.
amiiin
Maret 26, 2008 pada 12:53 am
sandy eggi
menurut saya memang aspek cross cultural nya bagus, meskipun kadang mesir nya terasa di Jawa
Maret 26, 2008 pada 1:34 am
Totok Suhardiyanto
Ya, benar, Sandy. Kelihatan kalau mesirnya kadang adalah satu pojok di kota Semarang. Namun, ya barangkali itu yang maksimal bisa diberikan lha wong Pemerintah Mesirnya aja melarang dilakukan syuting film di sana. Cuma, yang menarik, kenapa syutingnya di LN malah dipindahkan ke India ya? Kenapa enggak ke Tunisia atau Maroko yang notabene lebih gampang perizinannnya; apalagi Maroko adalah satu2nya negara Afrika yang punya hubungan khusus dengan Indonesia (perjanjian bebas visa). Mmm … mungkin karena ada Punjabi di balik AAC kali … huehehehehe.
Maret 26, 2008 pada 2:07 am
sandy eggi
iya .. .kalo ada punjabi jadi serasa nonton sinetron….
April 1, 2008 pada 3:28 am
akhtarsajid
Menurut orang yang pernah ke Mesir, memang sama sekali nggak berasa Mesirnya. Mestinya memang diganti di daerah yang ada bau-bau Afrika nya ya. Minimal satu benua.
Anyway, saya masih sedih, kenapa sampai ada mikropon bocor segala di itu film. Padahal saya berharap banget dari film itu, karena nge-fans banget sama bukunya…
April 12, 2008 pada 11:11 am
Totok Suhardiyanto
Terima kasih sudah mampir mas Akhtar. Ya, saya penggemar novel AAC sejak novel itu pertama kali terbit. Namun, saya sadar juga bahwa novel dan film AAC adalah dua karya yang berbeda. Jadi, sejak awal pula saya menikmatinya dalam kerangka itu. Tetapi, saya memang heran aja kenapa pilihan pengganti Mesir jatuhnya ke India?