Bagi kita yang hidup dewasa di zaman modern yang individualistis dan materialistis ini, tentunya sulit memahami sedekat apa hubungan kekerabatan kita dengan kakek atau nenek kita. Kita sering menempatkan nenek atau juga kakek kita ke lingkaran luar dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi, ketika seseorang sudah menginjak usia lanjut, maka “nilai” di mata masyarakat pun menurut. Tidak hanya di masyarakat, bahkan di dalam keluarganya sendiri. Saya melihat kecenderungan itu di dalam masyarakat modern kita. Kita yang dulu mengagung-agungkan bahwa kita adalah bangsa yang menghormati leluhur atau orang tua, tetapi kenyataan sering menghindar ketika dimintai untuk merawat orang yang sudah tua. Jadi, kita lebih asyik dengan kehidupan kita sendiri sehingga urusan orang tua kita, khususnya kakek dan nenek, biar menjadi urusan nanny atau pengurus panti jompo. Kita sering lupa bahwa tanpa mereka kita tidak akan pernah hadir. Memang, Tuhanlah yang menjadi causa prima, namun Tuhan memilih kakek dan nenek kita sebagai jalan bagi kita untuk eksis di dunia ini.
Sebagian kita, termasuk saya barangkali, memang lebih asyik-masyuk dengan kehidupan diri-sendiri daripada sesekali bercengkerama dengan kakek atau nenek kita. Padahal, mereka mungkin telah mempertaruhkan hidup mereka demi kehidupan yang kita jalani sekarang. Jadi, saatnya kita merenungkan: apa sebenarnya arti seorang nenek? Pertanyaan ini justru mengganggu saya ketika nenek saya, Soedjirah, meninggal dunia dengan tenang tadi pagi, pukul 03.20 di tempat tidur yang menjadi dunia kesehariannya selama 3 tahun belakangannya ini. Selamat jalan, Simbah. Maafkan kesalahan cucumu ini jika ada kesalahan meskipun kecil seperti merogoh uang di dompetmu untuk membeli gulali. Semoga lapang jalanmu menuju Sang Khalik.



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini